I Don’t no, What Happend Wtih You.. Oppa

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Annyeong Haseyoo….😀,

Author : Ralan157 or @liraselvia

Main Cast : Park jiyeon T-ARA, Jang Mirin Ah (OC), G Dragon BIG BANG

Other Cast : Deasung BIG BANG, Park injung T-ARA

Gener : Romace, sad

Desain Cover : Karra

Ini murni hasil pemikiranku ^^

happy reading guys…

JIYEON POV

“Hei… Kenapa kamu melamun saja” suara temanku membubarkan pikiranku yang sedang melamun “siapa yang harus aku tulis di atas batu cinta inI” ketus suara hatiku

“jiyeon.. ayo tuliskan nama kamu dan namjachingu kamu di atas batu ini, dan katanya niscaya akan berjodoh..” Injung terus saja mendesakku untuk cepat-cepat menuliskan nama pasangan aku. Aku sendiri bingung mau menuliskan siapa yang berhak aku tulis dan bersandingkan dengan aku..

“Aish.. lama sekali kau jiyeon..”

“Ne… injung aku tulis sekarang “ tampak sekali wajahku bingung.aku mulai menulis di atas batu ini, orang menyebutnya dengan batu cinta karena siapa saja yang menuliskan namanya dan pasanganya niscaya akan berjodoh, aku sendiri masih meragukan akan hal itu, tapi ini hanya sebuah kepercayaan orang-orang sekitar, tetap saja yang menetukan jodoh kita adalah tuhan.

“kau sudah menuliskanya, siapa yang kamu tulis…??” Injung meledekku, dia tau kalau saat ini aku belum punya namjachingu

“sebenarnya kamu sendiri sudah tahu hehehe ” wajahnya menampakan penasaran yang sangat besar “ayo kita jalan-jalan lagi disini udaranya sangat sejuk “ aku mengalihkan pembicaraannya dan segera mengajak dia untuk jalan-jalan lagi.

*******

8 years ago

“ Jiyeon ayo cepat bangun… nanti kita kesiangan datang ke kampus..” Injung berusaha membangunkanku, tapi aku semakin menarik selimutku dan berpura-pura tidak mendengarkan teriakan dia

“Cepat bangun sebentar lagi Deasung mau menjemput kita” dia berteriak dan menarik selimutku, dan aku melanjutkan tidurku, Tak lama Deasung datang ke apartementku untuk menjemput

“Aisssh… Waeyo… Jiyeon belum bangun, heii noona… mau pergi ke kampus kan.. ? ayo cepat bangun..” aku tak mendengarkan teriakan mereka, tapi Deasung malah mencium kening ku dan membisikan “ayo noona bangun, bukankah hari ini kita anniversary 1 thn” serentak aku bangun dari tidurku melihat wajah deasung yang begitu enak di pandang, seakan-akan dia itu sudah menjadi bak seorang appa dan aku seorang eommanya

*******

Sepulang dari kampus, Deasung berjanji akan merayakan 1 tahun pacaran kita, aku duduk di bangku mobilnya tepatnya  di samping dia, melihat raut wajahnya yang begitu ceria hingga aku tak kuasa memalingkan mataku sedikitpun kepada orang orang lain.

“Nah kita sampai..” dengan senyum manisnya meberitahukan aku yang sedang terlelap tidur. “ Noona kita ini sudah sampai..”

“Kita dimana Oppa..” Tanya ku,  ketika aku bangun dan melihat keadaan sekitar, sepertinya ini tempat tidak asing bagi ku..

“Ini danau, diamana di pinggir danau terdapat batu yang bisa menjodohkan kita” serentak aku kaget mendengarnya “Noona kita ukir nama di atas batu cinta itu “ melihat dia sangat bersemangat dan segera membawa aku turun dari mobilnya. “Noona aku akan ukir nama kita berdua, kamu juga harus mengukir nama kita ya…” aku hanya bisa tersenyum melihat dia mengukir nama aku dan dia

Dahulu ketika aku kesini aku mengukir nama dengan seseorang yang telah meninggalkan cinta ku, dia pergi  entah kemana hingga 8 tahun berlalu dia tidak kasih sedikitpun kabar, deasung aku minta maaf karena sebelumnya aku pernah mencintai seseorang, sampai sekarang akupun tak bisa melupakannya jiyoung dimana kau sekarang, andai kamu ada disini mungkin semua ini takkan terjadi, aku tak mungkin berpacaran dengan deasung, Deasung sekali lagi aku minta maaf 1 tahun berjalan dengan mu tetap saja hati ini berpihak pada jiyoung.

“Noona ayo cepat ukir nama kita” sontak Deasung membubarkan pikiranku yang sedang memikirkan seseorang yang jauh disana

“Ne.. aku akan mengukir nama kita” Aku mulai menulis hurup perhurup, terlihat sekali Deasung memperhatikan tanganku yang sedang mengukir sebuah nama, hingga aku selesai mengukirnya

“ukiran yang bagus noona, noona jika kita berjodoh aku akan menjadi appa yang baik dan akan selalu menjagamu..” dia memelukku dengan erat, tak sepatah katapun keluar dari mulutku, aku hanya bisa tersenyum dari raut wajahku sedangkan hati ini menangis.

****

KRING…KRING…. suara hadphone membangunkan tidurku yang nyenyak, aku bergegas untuk mengangkatnya, dan ternyata eomma ku yang memangil

“Ne.. yeoboseyo eomma “ rasa kantuk mesih menyerang ku

“jiyeon, kapan kamu mau pulang kampung, bukankah kamu sudah libur semester, cepatlah pulang eomma dan appa merindukan kamu, dan ada seseorang yang mau bertemu dengan mu” suara eomma ku mebangunku dari kantuk yang tadi menyerangku, ‘seseorang’ siapa orang itu sebenarnya

“ne.. oemma nanti siang aku akan bersiap-siap buat pulang kampung”

“apakah Deasung akan mengantarmu” terlihat dari suara eommaku senang saat mengatakan Deasung

“Annio oemma, dia sudah pulang kampung kemarin, aku akan pulang bersama injung”

“ne.. hati-hati sayang, eomma dan appa menunggumu dirumah”
“Ne…saranghae” seraya aku menutup telepon dari eomma ku

*******

“Uuahh akhirnya sampai rumah juga, Injung thank’s ya sudah mau mengantarku sampai ke rumah ku”

“ne.. tak perlu sungkan begitu, ok aku pergi dulu yach..” injung megoperkan gigi dan menacapkan gas mobilnya dan pergi pulang kerumahnya

“ye… gamzahamnida…” teriaku sembari melampaikan tangan, aku berjalan menuju arah pintu depanku, hati ini rasanya tentram apabila sudah ada dirumah sendiri.

“Eonnie pulang, eonnie Bogoshipo…..” namdongsaeng memelukku dengan erat.

Orang-orang di rumah menyambut kedatanganku, eomma memasakkan makanan yang aku suka yaitu Kimci dan saus asam manis ikan salmon semenjak aku tinggal dikota seol aku jarang sekali memakan makanan ini.

“jiyeon, ada orang yang ingin bertemu dengan mu, nanti juga dia akan menelepon mu” ucapan eomma yang manis membuat aku penasaran

“ne jeungmal eomma” eomma hanya tersenyum melihatku, mungkin dia tak perlu menjawab pertanyaanku

*******

Aku melihat kearah handpone ku, berharap ada kabar dari Deasung, sepulangnya dia kekampung halamannya dia belum saja kasih kabar. Bahkan telephone dan smsku juga tak pernah dijawabnya, ada apa sebenarnya, baru 2 bulan yang lalu kita merayakan annversarry 1 tahun hubungan kita, tapi kenapa akhir-akhir ini dia selalu berusaha untuk menjauh dari ku, apakah ada yang salah dari dari diriku.

KRING..KRING… suara itu membubarkan lamunanku, aku segera mengankatnya dan berharap itu adalah Deasung, tapi setelah aku lihat itu bukan dari Deasung, aku terdiam sejenak no siapa ini tanpa pikir panjang lagi aku mengangkat Handphone ku

“Ne..Yeoboseyo..”

“Hallo.. (….) benarkah ini Park Jiyeon ” Suara itu, suara itu tak asing bagiku, suara itu mengingatkan aku kepada seseorang , aku segera menutup telephone darinya.

Dengan wajah kaget aku segera mencari suatu di dalam laci mejaku, aku mencari sebuah gelang yang dahulu pernah jiyoung berikan kepadaku, dan aku segera  bergegas pergi ke danau dimana jiyoung menemui aku yang terakhir kalinya saat itu.

****

“Sebenarnya apa yang terjadi, apa yang tadi itu dia.. kenapa dia datang kembali, dia datang disaat yang tidak tepat, disaat hati ini mulai mencintai orang lain.. Aaaaaaa….”  Aku berteriak sekeras mungkin, air mata yang tak kupinta keluar dari mataku akhirnya keluar dengan sendirinya, aku menatap kearah danau itu dan memegang gelang pemberian jiyoung, aku menangis dan berharap semua ada jawabannya

Flashback

“jiyeon, maukah kau menungguku..” Tanya jiyoung kepadaku, melihat wajahnya yang begitu memelas

“memangnya oppa mau pergi kemana..” tanyaku penasaran

“Berjanjilah untuk selalu menungguku hingga aku datang kembali, pakai lah gelang ini, aku memakai gelang ini dengan bertuliskan namamu dan gelang punyamu bertuliskan namaku, dan jika suatu saat aku kembali, datanglah kedanau ini dan pakailah gelang ini, setelah itu kita akan mewujudkan mimpi kita untuk menikah”

Dia tersenyum padaku Dengan tidak menjelaskan dia pergi kemana, air mata ini turun membasahi pipi ini, jiyoung memelukku erat dan mencium keningku.

******

Seseorang anak kecil datang mengahampiriku, dan membubarkan lamunannku, anak itu begitu manis dan tersenyum padaku. Aku segera bambasuh air mata ini dan ikut tersenyum melihat dia

“Eonni waeyo, waeyo…. menangis sendiri disini..” terlihat dari wajah anak itu ingin mengetahui sesuatu dariku, aku tersenyum dan memegang pundak anak itu.

“eonni tidak apa-apa, saeng dengan siapa kesini ? kenapa bermain-main disini sendiri” Tanya manisku kepada anak itu

“anio.. aku tidak sendiri eonni, aku bersama appaku dia ada disana di dekat batu cinta..” jelasnya padaku

“Ne.. eonni antarkan kamu ke appa kamu lagi ya..”

“gamsahamnida eonni..” melihat senyumannya.. entah kenapa hati ini yang tadinya begitu rumit kini menjadi tenang, tangan kecil dan hangat ini memegang tanganku, seakan-akan aku seperti eomma dari anak ini. “appa… aku disini..” anak manis itu berlari menuju appanya, ketika appa dari anak itu memalingkan wajahnya……………….. aku terhenti dari langkahku, aku memasukan gelangku kedalam saku celanaku.

Apakah itu jiyoung, sosok yang selama ini aku tunggu-tunggu, tapi kenapa, benarkah ini… apakah semua ini mimpi, bangunlah jiyeon…. Tidak………. ini nyata, lalu benarkan gadis manis itu anak dia, jiyoung apakah itu benar anakmu. Rasanya Aku ingin pergi dari hadapannya hati dan mata ini tak kuasa untuk melihatnya kembali.

“mirin Ah, kamu dari mana, appa mencari kamu kemana-mana..” terlihat wajahnya kaget seketika ketika melihat wajahku

“appa, eonni ini yang telah mengantarkan aku, dia yang menolongku appa” dengan polosnya dia bilang kepada appanya, yang tak lain dia adalah calon tunanganku terddahulu. Air mata ini aku tahan untuk tidak keluar di situasi ini, aku berusaha tersenyum dihadapannya, meskipun hati ini ingin sekali menangis karena tak kuasa melihat semua ini.

“Jiyeon, benarkah ini kamu..” pertanyaan yang tak mungkin aku jawab, bukankah sudah jelas kalau ini aku Park Jiyeon “Jiyeon sudikah kamu mampir ke rumah saya”

“appa sudah mengenal eonni inikah..? eonii ayo kita kerumah ayo.. eonni yah..” Mirin Ah nama dari gadis manis ini, dia menyela pembicaraan appanya dan membujuk aku untuk mampir kerumahnya, hatiku saat ini sedang kacau, apalagi nanti aku akan melihat istri dari jiyoung dan eomma dari tasya.

Apa boleh buat mirin terus saja membujukku, akhirnya aku mengalah, dan mau ikut bersama mereka kerumahnya, aku persiapkan hati ini ketika nanti aku melihat eomma mirin ah

******

Jiyoung mengendong gadis manis itu yang terlelap tidur di dalam mobil, ke dalam kamarnya dan membaringkan Mirin ke tempat tidurnya, aku hanya terdiam melihat mereka, aku duduk di kursi luar rumahnya.

“Jiyeon ayo masuk, di luar cuacanya dingin” tanpa banyak kata aku masuk kerumahnya. Entah kenapa lidah ini begitu beku hingga tak sepatah katapun aku lontarakan kepadanya, mungkin hati ini masih belum bisa menerima semua ini. Tapi aku akan coba memulai Tanya kepadanya.

“jiyoung.. apakah”

“Ne…”dia menyela pertanyaan aku “semua yang kamu lihat ini adalah benar, Mirin  adalah anakku” ia mengangukan kepalanya dan aku menyela kata-katanya

“yah semua sudah jelas, tidak ada yang harus di jelaskan lagi, kamu sudah menikah dan mempunyai anak dari hasil pernikahanmu, jadi aku anggap diantara kita tak ada janji lagi kan, ini aku kembalikan gelang ini, dengan ini kamu bisa hidup bahagia dengan istrimu” air mata ini keluar tanpa aku sadari

“anio.. ada yang kamu tidak mengerti  jiyeon, kamu harus dengarkan aku dulu”

Aku langsung pergi dari hadapannya, aku tak hiraukan dia memanganggil-panggil namaku, air mata ini mengalir dengan deras menjadi bukti bahwa aku memang tak bisa menerima semua ini

*******

“Eomma, hari ini aku mau pulang ke apartement aku yang diseol” tanyaku kepada eomma, serentak dia berhenti dari kunyahan yang dia makan

“bukankah liburanya 1 minggu lagi, kenapa terburu-buru begitu ?” Tanya eommaku dan melanjutkan makannya

“Ne.. ada urusan yang harus aku selesaikan eomma, aku kesana bersama injung lagi dan disana juga ada deasung yang menjaga aku eomma” alasan ku kepada eomma ku, padahal sebenarnya aku hanya ingin menenangkan diri ini dengan menyendiri dahulu di apartement ku, soal deasung, sudah seminggu dia masih belum kasih kabar kepadaku.

“Kapan kamu mau berangkat..?”

“ sekarang eomma, sudah sarapan, aku sudah membereskan semua pakaian”

“bogoshipho jiyeon, ok kalau itu memang mau kamu, eomma ikhlas kamu pergi lagi”
“Ne.. gamsahamnida eomma” aku tersenyum begitu juga dengan eomma

********

Enak rasanya kalau sudah sampai diapartement sendiri,aku mengambil handphone ku.

“ayo.. angkat telephonenya deasung, Bogoshipho, oppa ayo angkat” terasa hati ini mulai tak tenang entah apa yang terjadi sebenarnya dengan deasung

“Ne.. yeojachingu ada apa” jawabnya

“deasung oppa, kenapa tidak kasih kabar, apakah oppa baik-baik saja di sana ?” tanyaku resah

“Ne.. aku baik-baik saja, hanya saja di kampung saya sedikit sibuk dan tak sempat kasih kabar padamu noona, maaf yach”

Mendengar alasanya aku sedikit mengerti dengan keadaannya, “Ne.. nanti kalau sudah sampai di seol oppa harus langsung ke apartement aku, nanti aku akan masak makan kesukaan mu ok”

“Ne..” dia langsung menutup teleponnya, ada yang aneh dengan dia apakah sesibuk itu sampai-sampai dia lupa bilang saranghae di akhir telephone, biasanya dia selalu bilang begitu kalau kita berbicara di telepone.

Aku menghapus semua pikiran negatifku tentang deasung, rasanya aku ingin pergi keluar untuk sekedar mendinginkan pikiran ini yang akhir-akhir ini pikiran ku merasa panas karena kejadian-kejadian yang tak terpikir olehku, aku pergi ke sebuah kape, dimana kape itu adalah kape langganan aku dan deasung, aku duduk sendiri di bangku yang selalu aku duduki dengan deasung sambil menyeduh lemon tea, aku melihat kearah depan tak jauh dari tempat dudukku, namja itu duduk membelakangi diriku, terlihat dari fisiknya rasanya tak asing bagiku. Tapi namja itu sedang asik mengobrol dengan seorang yeoja, aku tak mengenal siapa yeoja itu, namja itu memegang tangan yeoja itu, sepintas dia melihat kesemua sudut ruangan, aku melihatnya….

Wajah namja itu adalah deasung, bukankah 2 jam lalu dia bilang kalau dia sedang ada dikampungnya, pikiranku tambah runyam saja melihat mereka bermesraan bahkan saking asiknya dia tak menyadari bahwa aku ada dibelakangnya, mereka bergegas pergi dari kape itu, dengan diam-diam aku membuntuti mereka, dengan perasaan yang kacau, pikiran tambah runyam, aku meminta ke supir taksi untuk mengikuti mobil deasung, dugaan ku benar mereka pergi ke apartement milik deasung, aku biarkan mereka masuk terlabih dahulu, rasanya tangan ini sudah tak sabar untuk menampar mereka berdua, aku tarik napas dalam-dalam dan turun dari mobil taksi yang aku tumpangi.

Sudah kebiasaan deasung selalu tidak mengunci pintu apartementnya, aku diam-diam berjalan, sebenarnya dimana mereka, aku langsung berjalan kearah kamar Deasung…..

Aku melihat sosok namja cinguku sedang bermesaraan dengan yeoja itu, dan memeluk erat yeoja itu, mataku mulai berkaca-kaca aku sengaja jatuhkan sebuah hiasan yang ada di lemari, serentak mereka melihat ke arahku, melihat wajah deasung yang begitu kaget akan kedatanganku dia langsung melepaskan pelukan dari yeoja itu dan berjalan kearahku.

“jiyeon.. ini…ini tak seperti yang kamu lihat..” cara bicara yang terbata-bata tidak menyakinkan aku untuk percaya padanya

“TAK SEPERTI YANG KAMU LIHAT,,, maksud kamu apa, ini sudah jelas kamu bermain di belakangku” jawabku dengan keras dan tangan ini reflek menamparnya… “PLAKKK..” deasung memegang pipinya yang aku tampar, yeoja itu hanya bisa diam meliahat semua ini, reflek deasung berusaha memelukku namun aku berusaha melepaskan pelukannya, setalah berhasil melepaskan pelukannya aku langsung pergi dari apartemen itu dan langsung memangil taksi.

*****

Hidup ini amat sangat berat bagiku, aku bagai sebuah daun yang terombang-ambing oleh angin dan tak tahu arah yang pasti.

“jiyeon, are you ok..” injung datang menghampiriku “sudahlah jiyeon jangan terlalu dipikirkan, kamu pasti sangat sedih.. tapi ini kan hari pertama kamu masuk kuliah lagi jadi harus semangat. Ok..!!” Injung berusaha menghiburku dengan ejekan-ejekan dia tentang Deasung, semenjak kejadian kemarin aku langsung menceritakan pada park injung  the best my friends, tak sadar aku tertwa dengan ejakan-ejekan Injung yang melecehkan deasung “Nah gitu dong tersenyum yach, jadi terlihat cantik”

****

Aku berjalan diterotoar pejalan kaki, aku melewati satu per satu gedung yang tinggi di seol, aku melewati sebuah sekolah, aku melihat banyak gadis kecil yang sangat manis, langkah dan tatapanku terhenti seketika ketika di sebrang sana terlihat gadis kecil yang sedang duduk di sebuah halte bis, gadis itu adalah Jang Mirin Ah, aku segera menghampirinya.

“Mirin..” tanyaku, dia memalingkan wajahnya ke arahku, wajahnya langsung tersenyum berseri

“eonni…”
“Sedang apa disini Mirin, apakah appa mu tak menjemputmu ?” tanyaku penuh penasaran

“aniyo eonni, appa sedang kerja dan tadi pagi dia sempat bilang untuk pulang naik bis saja” jawaban yang polos dan mengemaskan

“eonni antar kamu pulang yah”

“jeongmal…” ekpresi yang menampakkan dia sangat senang

Di dalam bis aku berusaha mengajak ngobrol dengan Mirin

“mirin, eomma kamu kemana kenapa dia tak menjemputmu..?” tanyaku dengan penuh penasaran karena semenjak aku hadir melihat jiyoung dan mirin aku belum pernah melihat eomma dari mirin

“…… eomma, kata appa eomma sudah pergi ke surga….” Melihat wajahnya tampak sedih, aku kaget mendengarnya benarkah itu “eonni, dari aku lahir aku belum pernah melihat eomma” apakah aku telah menyakiti perasaan anak kecil ini dengan bertanya begini, melihat wajahnya yang langsung layu karena pertanyaan ku, sungguh aku tak bermaksud untuk membuatnya bersedih mirin

“mianhae mirin, eonni benar-benar tidak tahu, eomma mu disana mungkin akan terseyum jika melihat kamu tersenyum, jadi jangan sedih lagi ya” bujukku pada mirin supaya ia tak sedih lagi.

“eonni sudah sampai ayo turun..” tampak dari wajahnya yang mulai baikan, “eonni ayo masuk ke rumah aku dulu” bujuk nya

“eonni tidak bisa soalnya ada urusan dulu dengan teman eonni” tapi sesungguhnya aku sedang tak ingin melihat appanya “awas ya nyebrang jalannya”

“iya eonni sampai jumpa” di berjalan dan memalingkan wajahnya padaku dan melambaikan tangan. Dari arah jalan sebuah mobil melaju dengan kencang, reflek aku langsung berteriak dan menghirdarkan mirin dari mobil yang mau menabrak mirin…

Entah kenapa aku seperti mendengar jeritan mirin yang memangil ku “Eonnii……” .. BBRRRAAAAAKKKK

****

“jiyeon bangun sayang, eomma disini”

Aku membuka mataku perlahan dan melihat sekitar, terlihat eomma, appa, saeng, dan Injung temanku

“apa yang terjadi” air mata mulai turun dari mata ini, ketika aku meraksan kesakitan diseluruh badanku dan melihat keadaan ku yang terbaring di atas tempat tidur, implus yang menempel di tangan dan perban yang membalut kepalaku

“sudah jiyeon kamu istirahat saja dulu ya, nanti kita ceritakan jika kamu sudah mulai baikan” ajak injung menenangkan ku.

*******

1 mingu kemudian

Aku teridur lelap dimana alat implus masih melekat di tangan ku, di temanin oleh Injung sahabatku yang senantiasa menjagaku, semenjak hari kemarin eomma dan appaku pulang ke kampung halamannya. terdengar seseorang membukakan pintu, aku membuka mataku perlahan, tetap saja rasa pusing ini tak mau pergi dari kepala ini, Injung juga ikut bangun, aku lihat mirin dan jiyoung yang datang, entah ada apa dengan pelipis mata ini, pelipis ini tak mau membukakan untuk mata ini untuk melihat mereka, injung yang tadi memperhatikan ku sontak dia langsung kaget dan langsung memangil dokter, yang aku rasakan seseorang memegang tanganku dengan erat dan hangat tangan kecil mirin memegang tangan ku yang mulai dingin. Dokter lansung memeriksa semua keadaan aku.

“bekas benturan di kepalanya membuat dia mengeluarkan banyak darah, hingga Tekanan darahnya turun, hingga dia tak kuasa untuk bangun, kita butuh donor darah, dan noona mirin mempunyai golongan darah AB”

“tapi golongan darah aku B, bagaimana ini..” jawab injung dengan rasa cemas

“appa bagaimana ini..” tangis mirin melihat diriku terbaring di atas tempat tidur

“dokter, golongan darah aku AB..”

******

1 Mingu kemudian

“Injung aku ingin pergi keluar…” Tanya ku pada injung, injung langsung memalingkan wajahnya ke arahku dengan penuh keheranan “waeyo… kamu melihat ku dengan tatapan begitu “

“Jiyeon, kau baru saja pulang dari rumah sakit, apakah kamu tak merasakan kesakitan lagi” jawab cemas injung yang menghawatirkan aku

“Anio injung, aku merasa jauh lebih sehat, hanya saja dokter melarangku untu melepas perban di kepalaku karena lukanya masih basah” aku perjelas jawabanku kepada injung

“jiyeon….”

“Ne..” ada apa dengan injung, kenapa di seperti orang yang bingung

“ini ada titipan..”

“dari siapa ini..” dengan penuh penasaran aku membuka kotak yang di berikan injung kepadaku, ternyata di dalamnya adalah gelang, gelang yang dulu aku Berikan kepada jiyoung, lalu ia berikan lagi kepadaku, “mianhe injung, aku tak bisa menerima ini” aku menutup lagi kotak itu

“Maksud kamu apa, ada apa dengan kamu.. apakah sebegitu besar kah kau membenci jiyoung?” dia membentakku

“Hei.. ada apa dengan kamu..!!” aku membentak balik injung

“aku sudah tau semuanya jiyeon” mata injung seakan-akan ingin keluar dari tempatnya “dan asal kamu tau… disaat dia tau kamu tertabrak disaat mengantarkan mirin pulang, dia begitu kaget dia menemani mu ke rumah sakit dan memeluk erat mirin yang saat itu menangisimu, melihat kepalamu yang berlumuran darah.. tanpa pikir panjang ia mendonorkan darahnya kepadamu supaya nyawa kamu tertolong, dia juga yang menenangkan semuanya, eommamu appamu, aku, dan mirin” aku menelan ludahku sendiri dan menatap injung tanpa berkedip “ seminggu kemudian kamu siuman tapi karena tubuhmu begitu lemah, hingga dokter bilang andai ada pendonor darah lagi…. kondisimu saat itu memang sangat lemah, kamu tau…. Untuk kedua kalinya dia mendonorkan darahnya, padahal sebenarnya itu bisa membahayakan dirinya sendiri…..” (………………) “hingga akhirnya dia menitipkan gelang ini, ada sesuatu yang HARUS KAMU KETAHUI jiyeon, dan sebenarnya dia sampai saat ini sampai detik ini dia selalu mencintaimu..”

Mendengar penjelasan injung, aku meneteskan air mata yang tak kupinta keluar, benarkah yang dibilang injung, benarkah itu

“jeongmal, injung benarkah itu, dan sekarang dia ada dimana, aku ingin menemuinya injung, antarkan aku kesana” air mata ini keluar semakin deras

Injung bergegas mengantarkan aku ke tempat jiyoung dan mirin sedang menunggu, dan ternyata tempat ini…. Danau itu…

Aku langsung turun dari mobil Injung, Injung mengajak Mirin bermain sedangkan aku langsung menghampiri jiyoung yang sedang berdiri di pinggir danau dengan tatapan yang kosong

“Jiyoung….” dia memalingkan wajahnya dia menatapku dan tersenyum

“apa kamu sudah baikan, bagaimana dengan lukamu ?” jawabanya menyatakan seperti tidak ada terjadi apa-apa

“Ne,, aku kesini ingin mengucapkan…… gamsahamnida dan…”

“iya sudahlah” dia menyela pertanyaan ku “jiyeon, aku belum pernah melihat mirin sedih, benar-benar sedih ketika kamu tergeletak tak berdaya, dan aku juga belum pernah melihat mirin merasa khawatir kepada seseorang, sepertinya dia merasakan sosok belaian seorang eomma dari tanganmu”

aku terdiam dan menundukan kepala, dia melanjutkan ceritanya “aku minta maaf jiyeon, ini semua karena appaku, appaku menjodohkan aku dengan eomma mirin demi memperkuat perusahaannya, apa boleh buat aku menurutinya karena aku diancam takkan diberi saham oleh appaku, akhirnya aku menikah dengan soo yun, 1tahun lebih dari pernikahan, kita dikaruniai seorang anak yang manis, namun sayang soo yun tak bisa melihat kebahagian ini, nyawanya tidak tertolong ketika melahirkan mirin”

serentak aku dan jiyoung melihat mirin yang sedang bermain dengan injung “ 6 tahun aku membesarkan mirin sendiri, dan 6 tahun juga aku memikirkan mu, dulu kamu gadis yang berusia 16tahun yang belum tau tentang cinta, tapi saat itu aku berani memberi janji kepadamu kelak aku akan menikahi mu, dan sekarang kamu menjadi perempuan yang cantik” ketus namja itu, aku terseyum mendengarkan ceritanya

“Ne.. aku mengerti jiyoung, mianhe.. andai saja dulu aku mendengarkan semua penjelasanmu mungkin semua ini takkan terjadi” aku mengeluarkan gelang dari saku aku.

Jiyoung  memakaikan gelang itu ketanganku, dan menatap kearahku “jiyeon aku berjanji aku akan menikahimu, ini adalah saat yang tepat…. jiyeon apakah kau mau menikah denganku dan menjadi eomma dari mirin”

Tanpa pikir panjang aku menjawab “Ne… aku bersedia menikah denganmu dan menjadi eomma dari mirin” jiyeon langsung memeluk dan mencium ku, ciuman yang sudah lama sekali aku tidak rasakan darimu  oppa, dia melihat dan tersenyum kecil dan tak melepaskan pelukannya, hingga dia mencium kening ku dimana di keningku masih ada perban yang mengulung kepalaku.

Hati ini rasanya benar-benar bahagia ketika aku menerima keadaan semuanya

“Appa,, ayo kemari, eonni injung menemukan sesuatu” Kita saling menatap dan langsung mengikuti arah mirin berjalan, dia membawa kearah sebuah batu, terlihat sekali injung tersenyum-senyum padaku

“Jiyeon  akhirnya aku tahu, 8 tahun yang lalu kamu mengukir nama dengan jiyoung, tapi kau tak memberi tahukan kepadaku, lihat ukirannya masih bagus ‘jiyeon and jiyoung’ jadi apakah kalian memang berjodoh” dengan wajah tersenyum-senyum dia menanyakan hal itu padaku

“Ne.. Injung sekarang jiyeon akan menikah dengan ku dan menjadi eomma dari dari mirin”

“jeongmal……?” tatapan Mirin dan injung kearah kami “appa benarkah eonni jiyeon mau menjadi eommaku”

“ne… mirin..” mirin langsung memelukku, dan aku merasakan kebahagiaan yang sangat luar biasa, yang belum pernah aku rasakan seumur hidupku..

****

“Park Injung sedang apa kamu..” Tanya ku keheranan

“Aku sedang mengukir nama aku dengan seorang namja..”

“Siapa namja itu …” aku, jiyoung dan mirin semakin penasaran

“Dengan… lee donghae member SUJU, biar bisa berjodoh seperti kalian..”

Kita saling menatap dan tertawa bersama-sama…….

*********

Gamsahamnida sudah membaca FF ku, ini adalah ^^

4 thoughts on “I Don’t no, What Happend Wtih You.. Oppa

  1. annyeong ^^ iseng2 baca hasil karyamu saeng🙂
    cieeee batu cinta ya..Daebak ide ceritanya ^^b
    tapi bahasanya aga terlalu baku sama bahasa inggris u judulnya kurang bener saeeng hehe #mian
    Keep writing, ne? hwaiting!!

    1. gomawo eon….😀 deuh jonghyun biased skrng mah,,
      aduh jadi malu eunk eon, bahasa aku masih kurang bagus yach >??
      tapi gx PP eon ini jasi saran buat aku..😀
      gomawo sudah mau kasih sarang padaku😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s