Menikah Sekarang… ??? kenapa harus takut…!!!

Menikah, Menurut sebagian Anak muda sekarang sesuatu hal yang sangat menakutkan, Kenapa tidak, mereka berpikir bahwa menikah tangung jawab seseorang menjadi lebih berat, terutama untuk seorang laki-laki, dan bagi seorang perempuan menikah akan mengurangi kebebasannya, karena akan di atur oleh suami..

Teman-temanku sekalian saya akan membahas sedikit tentang pernikahan, jujur saya pribadi awalnya meresa takut kadang kala menceritakan sebuahan pernikahan, tapi setelah saya membaca berbagai berita di sebuah internet maupun buku, saya sekarang bisa menyimpulkan bahwa pernikahan itu bukan sesuatu hal yang sangat menakutkan.

JALAN TERBAIK ITU SEBENARNYA : MENIKAH

Sabda Rasulullah SAW :

Wahai generasi muda, barang siapa di antara kalian sudah siap (mampu) menjalani hidup berumah tangga (suami-istri) maka menikahlah ! Sesungguhnya di balik itu, pandangan mata dan kemaluan akan lebih terjaga dan terpelihara dari perbuatan maksiat. dan barang siapa belum mampu, hendaknya ia berpuasa, karena dengan puasa itulah dirinya akan terlindungi dari kemaksiatan.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Hadists Rasulullah Saw. tersebut menawarkan dua pilihan kepada kita, yakni bila sudah siap (mampu) untuk menikah maka tidak alasan lain untuk menunda-nunda pernikahan. mengapa demikian ?

sudah di sebutkan di dalam hadist karena dengan menikah pandangan mata dan kemaluan akan lebih terjaga dan terpelihara dari perbuatan maksiat. Tetapi, bila tidak, pilihan yang terbaik adalah melakukan puasa. sungguh, dengan puasa seseorang akan terlindungi dari kemaksiatan.

saya pribadi merasa heran dengan tingkah laku anak remaja sekarang, sebenarnya apa yang mereka tunggu, apakah mereka menunggu usia yang mapan, atau ekomoninya belum terpenuhi, tidak usah takut akan hal itu. saya akan mengutip salah satu dasar pernikahan yang hingga kini masih berlaku di indonesia, yakni Undang-Undang Perkawinan Nomor 1 Tahun 1974 perkawinan Hanya diizinkan jika pihak pria sudah mencapai umur 19 tahun dan pihak wanita mencapai umur 16 tahun.

saya pribadi bukan menyuruh anak-anak untuk segera menikah, tapi saya bisa menyimpulkan jadi tidak masalah dengan padangan seperti yang tertera di dalam Undang-Undang, Namun yang jadi masalah adalah Ketika Usia ini sang remaja tersebut sudah sangat BERANI berpacaran. Nah… Loh…?! sudah barang tentu menikah adalah pilihan yang terbaik. maka, ada pertanyaan yang mesti diajukan kepada kita semua, tema-teman muslim yang sedang dilanda jatuh cinta, “Bagaimanakah sikap kita ?” apakah kita menuruti semua keinginan untuk memenuhi kepuasan cinta begitu saja. Misalnya untuk seorang pria, ia langsung menemui orang yang ia cintai saat rindu melanda dirinya, ia menatap wajah perempuannya, mengandeng tanganya, atau bahkan mencium dengan lembut keningnya? Padahal, kita belum menikah. Apalagi, di antara kita tidak sedikit yang sering terjebak dengan atas nama cinta, tetapi malah melakukan perbuatan Zina, Astaghfirullahal’azhim. Sudah barang tentu, teman-teman muslim tahu akan hal itu, segala perilaku atas nama cinta, namun malah berbuat nista tidaklah sesuai dengan ajaran islam kita. Jadi bagaimanakah caranya ? Allah Swt Berfirman :

Dan adapun orang-orang yang takut kepada kebesaran tuhanya dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya, maka sesungguhnya surgalah tempat tinggal(nya).” (QS. An Naazi’aat 79 : 40-41).

Jadi siapakah yang tidak menginginkan surga ? padahal, di akhirat kelak hanya ada dua tempat. Kalau tidak di surga, ya di neraka. Sudah barang tentu, kita semua menginginkan tempat kembali yang penuh dengan kenikmatan, yakni surga-Nya.

Pertama saya akan bahas menahan pandangan, ya menahan pandangan, atau dengan kata lain menundukkan pandangan, ternyata mampu menghilangkan keinginan yang bersifat maksiat.

Lantas yang kedua, bagaimanakah dengan menjaga hati ? maksudnya siapakah yang dapat mengelak terhadap ketertarikan hati yang tiba-tiba berdesir untuk mencintai ? sesungguhnya siapa yang dapat mengelak dari sesuatu yang sebenarnya adalah anugerah terindah dari Allah Yang Maha Suci bagi setiap insan ini. Maka sesuai yang pertama saya katakan ada petunjuk dari baginda Muhammad Saw. Sebagaimana Berikut :

“…. Dan barang siapa yang belum mampu untuk menikah, hendaknya ia berpuasa. Karena dengan puasalah, dirinya akan terlindungi dari kemaksiatan.”

Inilah teman-teman ku tercinta, ternyata resepnya adalah berpuasa.

Persoalan selanjutnya, dan ini yang paling umum terjadi Sehingga menjadi alasan untuk menunda-nunda menikah adalah merasa “Belum siap” atau “Belum mampu”, alasan seperti itu tidak di benarkan dalam islam, seorang muslim merasa belum mampu untuk menikah, tetapi ia justru tidak mau mengendalikan dirinya, yang salah satunya dengan jalan puasa. Beralasan belum mampu untuk menikah, tetapi berpacaran jalan terus. Bahkan, bentuk pacaranya sudah menjurus ke hubungan suami istri. Misalnya, berpelukan, berciuman, maupun ngamar berdua untuk melakukan hubungan badan,  Na’udzubillaahi min dzalik!

Membangun kehidupan dalam berumah tangga adalah sesuatu yang sangat membahagiakan. Betapa tidak, sebelum menikah segala persoalan hidup mesti ditanggung sendiri, sedangkan ketika sudah menikah atau berumah tangga segala persoalan itu dapat diselesaikan secara bersama. Sungguh, seberat apa pun persoalan, bila ditangung bersama, akan terasa lebih ringan dan mudah untuk diselesaikan. Betapa indahnya kehidupan setelah menikah itu. Pada saat shalat lail misalnya, biasanya harus sendirian menahan dinginya malam, selanjutnya dapat dilaksanakan bersama istri atau suami tercinta dengan kemesraan hangat. Dan seusai shalat lail bersama, suami istri dapat bedzikir bersama, lalu sama-sama berdo’a memohon anugerah terindah kepada Allah Yang Maha Kuasa. Sambil menunggu waktu shalat shubuh, suami istri dapat mengaji bersama, atau bahkan boleh berpelukan mesra, yang sungguh semuanya berpahala.

Urusan bekerja dan mencari nafkagg, dalam keyakina saya, pastilah oleh Allah Swt. Segalanya akan dipermudah. Sungguh, saya belajar sepenuhnya meyakini firman Allah ta’ala berikautnya :

“Dan nikahkanlah orang-orang yang sendirian di antara kamu, dan orang-orang yang layak (menikah) dari hamba-hamba sahayamu yang lelaki dan hamba-hamba sahayamu yang perempuan.  Jika mereka miskin, Allah akan memampukan mereka dengan karunianya-nya. Dan Allah Maha Luas (pemberian-Nya) Lagi Maha mengetahui.” (QS.an-Nuur:32)

            Sungguh, Firman Allah Tersebut Memberikan Harapan Yang sangat besar bagi orang-orang yang beriman. Mari kita Cermati sekali lagi Kalimat yang memberikan harapan itu, “jika mereka miskin, Allah akan memampukan mereka dengan karunia-Nya,” ini adalah Friman Allah ! ayat inilah sesungguhnya yang ingin saya katakan kepada para pembaca tercinta sebagai pegangan: Dalam rangka memberanikan diri untuk menikah.

Bila keinginan atau keberanian untuk menikah sudah ada pada diri seseorang, maka hal pertama dan utama yang mesti dikuatkan sebelum menikah adalah Niat. Dan menurut saya alasan utama menikah adalah hendaknya karena agama. Dengan menikah kita menjadi lebih mampu dalam hal menundukkan pandangan. Dengan menikah kita memperolah ketenteraman jiwa, kasih dan sayang, sehingga mampi atau dapat beribadah dengan baik. Dan, dengan menikah sesungguhnya adalah menyempurnakan keagamaan kita. Bukankan Nikah adalah sunnah dari Rasulullah Saw. Dan, apabila nikah adalah sunnah Rasulullah, sudah barang tentu melaksankannya akan bernilai ibadah. Berangkat dari hal-hal demikianlah sesungguhnya niat menjadi sangat penting dan perlu untuk dipancangkan semenjak awal dengan baik.

Betapa Rasullah Saw. Menekankan dalam hal menikah ini sebagaimana sabda beliau sebagai berikut:

Nikah adalah sunnahku, barang siapa yang benci terhadap sunnahku, bukanlah ia termasuk umatku.” (HR.Bukhari dan Muslim).

Memang ada sebagian orang yang berpendapat bahwa ada pacaran yang islami. Tetap, Izinkan saya bertanya sesungguhnya berpacaran yang islami itu yang seperti apa ? Mari kita membayangkan, bila dua insane telah saling jatuh cinta, ada kecenderungan kuat untuk selalu ingin bertemu dengan sang pujaan Hati. Ada kerinduaan yang senantiasa berdebaran di dalam dadanya. Ada gejolak yang siapakah dapat mengingkari.

Bila sudah begini, apa yang mesti terjadi. Seminggu atau dua minggu, dapat bertemu dengan menundukan pandangan, Barangkali. Tetapi, apa yang selanjutnya mesti terjadi, Bila suara hati senantiasa bernyanyi agar segera menuntaskan kerinduan ini. Lebih dekat, dan lebih dekat lagi. Sungguh, luar biasa keimanan anda bila mampu berpacaran tanpa bersingungan dengan dosa. Subhanallah !

Namun, Bagaimanapun juga, menjaga diri dengan bersegera menikah adalah jauh lebih baik. Kesempatan setelah mendapat pasangan hidup adalah dan bila tidak segera menikah, adalah  masa-masa yang sangat rawan dalam menjaga kesucian akidah. Lebih baik hati-hati daripada tergelincir dan menjadikan kita lupa diri.

Dan sesungguhnya kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji, dan suatu jalan yang buruk.” (QS. Al-israa’:32)

Semoga kita bersama keluarga, dan juga saudara-saudara kita, dihindarkan oleh Allah dari jalan yang mengarah kepada perbuatan zina. Semoga kita diberi kekuaran oleh Allah untuk memilih mana yang baik dan berani menolak segala hal yang buruk. Semoga Allah senantiasa memberikan hidayah kepada kita semua. Allahumma aamiin.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s